Daily Indo News – Stasiun Klimatologi Jawa Barat, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), merilis prediksi musim kemarau tahun 2026 untuk wilayah Provinsi Jawa Barat. Berdasarkan hasil analisis dinamika atmosfer terbaru, sebagian besar wilayah Jawa Barat diprediksi akan memasuki musim kemarau lebih cepat dengan kondisi yang lebih kering dibandingkan rata-rata normalnya.
Berikut adalah rincian prediksi musim kemarau 2026 di Jawa Barat:
1. Awal Musim Kemarau: Mayoritas Dimulai Mei 2026
BMKG memprediksi awal musim kemarau di Jawa Barat akan terjadi secara bertahap mulai Maret hingga Juni 2026. Secara spasial, pembagiannya adalah sebagai berikut:
- Mei (56%): Sebanyak 23 Zona Musim (ZOM) atau mayoritas wilayah Jawa Barat akan mulai memasuki kemarau pada bulan ini.
- Juni (30%): Meliputi wilayah Jawa Barat bagian tengah dan tenggara.
- April (10%): Terjadi di sebagian kecil wilayah utara.
- Maret (2%): Terjadi di sebagian kecil wilayah barat laut.
Sebanyak 66% wilayah atau 27 ZOM diprediksi mengalami awal kemarau yang Maju atau lebih cepat dari normalnya.
2. Sifat Hujan dan Puncak Kemarau
Sifat hujan selama musim kemarau 2026 diprediksi akan berada pada kategori Bawah Normal (BN) untuk 93% wilayah (38 ZOM). Hal ini mengindikasikan kondisi kemarau yang akan terasa lebih kering dari biasanya. Adapun puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada bulan Agustus 2026 di 37 ZOM (90% wilayah).
3. Durasi Kemarau Lebih Panjang
Durasi musim kemarau tahun ini diprediksi akan berlangsung Lebih Panjang dari normalnya di 81% wilayah (33 ZOM). Kondisi ini dipengaruhi oleh fenomena El Nino yang diprediksi akan berkembang menjadi kategori lemah hingga moderat mulai periode Mei-Juni-Juli 2026.
Rekomendasi Strategis BMKG
Menyikapi prediksi tersebut, BMKG mengeluarkan sejumlah rekomendasi untuk meminimalisir dampak kekeringan:
- Sektor Sumber Daya Air: Optimalisasi operasi waduk dan bendungan serta penghematan penggunaan air bersih.
- Sektor Pertanian: Penyesuaian kalender tanam guna menghindari puncak kemarau dan penggunaan varietas tanaman yang tahan kekeringan.
- Sektor Kebencanaan: Peningkatan kesiapsiagaan terhadap potensi kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
- Sektor Kesehatan: Mewaspadai potensi peningkatan penyakit ISPA akibat debu atau asap karhutla serta menjaga hidrasi tubuh.
Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi perkembangan cuaca dan iklim melalui saluran resmi BMKG di laman staklimjabar.id atau media sosial @bmkg_jawabarat.
(YAS)


