Daily Indo News – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Garut, Jawa Barat, menetapkan status waspada terhadap penyebaran penyakit campak menjelang masa mudik Lebaran 2026. Hingga minggu pertama Maret 2026, tercatat telah ditemukan 34 kasus campak di wilayah Kabupaten Garut. Angka ini menunjukkan tren peningkatan signifikan dibandingkan total kasus sepanjang tahun 2025 yang berjumlah 27 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, dr. Leli Yuliani, mengungkapkan bahwa mayoritas kasus menyerang kelompok umur balita, khususnya laki-laki, yang diduga memiliki mobilitas lebih tinggi.
Sebaran Wilayah dan Pemicu Kasus
Saat ini, sebaran kasus telah terdeteksi di 15 kecamatan. Berdasarkan peta risiko, wilayah dengan status Very High Risk mencakup Banyuresmi (9 kasus), Pangatikan (7 kasus), Leuwigoong (6 kasus), Cibiuk (5 kasus), dan Tarogong Kidul (5 kasus).
Menurut dr. Leli, lonjakan ini dipicu oleh terbentuknya immunity gap atau celah kekebalan akibat pandemi COVID-19 (2020-2023). “Banyak anak usia balita saat ini belum mendapatkan imunisasi lengkap karena pembatasan sosial dan kekhawatiran masyarakat mengakses layanan kesehatan selama masa pandemi,” jelasnya, Selasa (17/3/2026)
Strategi Respon: Dari CUC ke Imunisasi Massal (ORI)
Menanggapi status outbreak ini, Pemkab Garut mengalihkan fokus dari _Catch Up Campaign_ (CUC) reguler menjadi _Outbreak Response Immunization_ (ORI) atau respon imunisasi massal, dengan target sasaran sekira 160 ribu anak usia 9-59 bulan, di mana kebutuhan vaksin diestimasi mencapai 190 ribu dosis (19.000 vial), yang dimulai akhir Maret dan akan diintensifkan pada April hingga Mei 2026, tepat setelah perayaan Idul Fitri.
Dinkes Garut mengakui adanya tantangan berupa hoaks anti-vaksin dan kekhawatiran orang tua terhadap efek samping seperti demam ringan. Namun, dr. Leli menegaskan bahwa stok vaksin MR (Measles Rubella) dari Kemenkes dipastikan aman dan akan terus ditambah setiap minggunya.
Mitigasi Jalur Mudik dan Objek Wisata
Menghadapi arus mudik dan kunjungan ke destinasi wisata seperti Cipanas dan Darajat, Dinkes Garut menyiagakan seluruh Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) 24 jam. Layanan imunisasi diisarankan dilakukan di dalam gedung Puskesmas sepanjang jalur mudik untuk menjaga kualitas suhu vaksin agar tidak rusak oleh sinar matahari.
Dalam prosedur penanganannya, jika ditemukan pemudik dengan gejala demam dan ruam, Puskesmas akan melakukan pemeriksaan lengkap, penyelidikan epidemiologi (tracing), dan penanganan sesuai prosedur.
“Pasien campak tidak wajib diisolasi di ruangan khusus, namun wajib membatasi kontak dengan anak di bawah 15 tahun,” tegas dr. Leli.
Imbauan untuk Orang Tua dan Pengelola Wisata
Menutup keterangannya, dr. Leli mengimbau orang tua untuk memastikan anak dalam kondisi sehat dan memiliki riwayat imunisasi lengkap sebelum memutuskan untuk mudik. “Batasi mobilitas jika anak sakit, gunakan masker, dan sering mencuci tangan. Segera hubungi fasilitas kesehatan jika muncul gejala demam atau ruam kulit,” pesannya.
Bagi pengelola tempat umum dan objek wisata, diminta aktif berkoordinasi dengan pos kesehatan terdekat jika menemukan pengunjung yang menunjukkan gejala campak.
“Kami menyediakan layanan darurat, bagi warga dapat menghubungi Call Center masing-masing Puskesmas (tersedia di media sosial/Instagram resmi Puskesmas setempat) atau melapor melalui kader posyandu dan bidan desa untuk penanganan cepat,” pungkasnya.
(YAS)


