Tanggapi Spanduk Kritik Bobotoh, Dedi Mulyadi: Terima Kasih Sudah Diingatkan - dailyindonews.com

Tanggapi Spanduk Kritik Bobotoh, Dedi Mulyadi: Terima Kasih Sudah Diingatkan

admin
3 Min Read
Foto : Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.

Daily Indo News – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, merespons santai aksi kritik suporter Persib Bandung yang membentangkan spanduk bertuliskan “Shut Up KDM” saat laga kontra Arema FC di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Jumat (24/4/2026). Bukannya defensif, pria yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi (KDM) ini justru mengapresiasi pesan tersebut sebagai bentuk kontrol publik. “Terima kasih sudah diingatkan,” ujar Dedi di Bandung, Minggu (26/4/2026).

Menurutnya, kritik dari Bobotoh merupakan pengingat penting agar dirinya tetap menjaga batasan dan tidak berlebihan dalam mencampuri urusan teknis maupun opini terkait klub kebanggaan Jawa Barat tersebut. Dia menilai niat di balik spanduk viral itu adalah menjaga profesionalisme sepak bola agar tetap steril dari kepentingan luar, termasuk politik.

Fokus pada Prestasi, Bukan Polemik Digital
Alih-alih memperpanjang perdebatan di media sosial, Dedi mengajak seluruh pendukung setia Persib untuk menyatukan energi guna mengawal performa tim. Terlebih, Persib tengah menghadapi fase krusial di penghujung musim.

“Mari kita alihkan energi pada dukungan nyata untuk tim, terutama menghadapi lima laga krusial ke depan. Fokus kita tetap pada prestasi tim,” tambahnya.

Transparansi Bonus Rp5 Miliar
Selain menanggapi kritik, Gubernur Dedi juga memberikan klarifikasi mendalam terkait polemik bonus pemain senilai Rp1 miliar per pertandingan tandang. Bonus tersebut merupakan komitmen dari pengusaha Maruarar Sirait dalam upaya mendukung target ambisius Persib meraih tiga gelar juara beruntun.

Berdasarkan penjelasan Dedi, proses itu muncul secara spontan dalam pertemuan antara dirinya, Maruarar, dan manajemen Persib.

Dedi menegaskan bahwa dirinya telah memastikan kepada pihak manajemen bahwa pemberian bonus ini tidak menabrak aturan formal yang berlaku. Meski sempat ada permintaan agar rencana ini tidak dipublikasikan, Dedi memilih untuk tetap membukanya kepada publik demi menjaga asas akuntabilitas.

“Saya menjunjung tinggi transparansi. Informasi mengenai dukungan finansial dalam ekosistem olahraga perlu disampaikan secara terbuka agar tidak menimbulkan spekulasi di kemudian hari,” tegasnya.

Melalui pendekatan ini, Dedi berupaya menempatkan diri sebagai fasilitator yang menjembatani dukungan eksternal tanpa mengintervensi manajemen profesional klub. Dia berharap keterbukaan ini dapat memperkuat fondasi kepercayaan antara pemerintah, pendukung, dan klub dalam menjaga marwah sepak bola profesional di Jawa Barat.

(YAS)

Share This Article
Leave a Comment