Dinkes Garut Perketat Skrining ‘Super Flu’, dr. Leli: Belum Ada Temuan WGS dari Pasien Lokal

admin
3 Min Read
Foto : Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, dr. Leli Yuliani (Dok.)

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, dr. Leli Yuliani, memberikan penjelasan mengenai teknis deteksi varian Influenza A(H3N2) sub-clade K atau yang sering disebut sebagai “Super Flu”. Hingga saat ini, belum ditemukan laporan kasus positif varian tersebut yang berasal dari spesimen pasien di wilayah Kabupaten Garut.

dr. Leli Yuliani mengungkapkan bahwa kepastian mengenai keberadaan varian ini hanya bisa diketahui melalui pengujian DNA atau Whole Genome Sequencing (WGS). Namun, untuk wilayah Garut, hasil pengujian tersebut sejauh ini masih nihil.

“Belum ada laporan dari hasil tes laboratorium secara DNA atau WGS yang dilakukan RSHS dan Labkesda Provinsi Jawa Barat terkait pasien dari Garut,” ujar dr. Leli, Rabu (7/1/2026).

Dia menjelaskan bahwa selama ini pemeriksaan WGS di Jawa Barat diprioritaskan bagi pasien yang dirawat di rumah sakit rujukan provinsi. “Pemeriksaan WGS dilaksanakan pada pasien yang dirawat di RS rujukan provinsi, yaitu RSHS, sebagai RS sentinel lokus pemeriksaan WGS. Sementara itu, sampai saat ini seluruh rumah sakit di Garut belum dijadikan sentinel sampel WGS.” papar dr. Leli.

Upaya Deteksi dan Skrining di Garut
Meski belum menjadi lokus pemeriksaan WGS, dr. Leli menegaskan bahwa langkah antisipasi di tingkat kabupaten sudah berjalan ketat. Dinas Kesehatan telah menginstruksikan seluruh fasilitas kesehatan untuk melakukan pemantauan terhadap pasien dengan gejala yang mengarah pada influenza berat.

“Upaya yang dilakukan untuk mendeteksi kasus ‘Super Flu’ di rumah sakit adalah melalui skrining ketat,” jelasnya.

“Rumah sakit yang merawat pasien suspek diwajibkan mengisi form laporan khusus yang terkoneksi langsung ke Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat.” tambahnya.

Situasi Epidemiologi dan Data Nasional
Secara nasional, sub-clade K ini memang telah terdeteksi di 8 provinsi di Indonesia sejak Agustus 2025, dengan total 62 kasus hingga akhir Desember. Jawa Barat termasuk dalam jajaran tiga besar provinsi dengan temuan kasus terbanyak bersama Jawa Timur dan Kalimantan Selatan.

Data surveilans menunjukkan karakteristik penyebaran sebagai berikut:
* Kelompok Rentan: Terbanyak ditemukan pada perempuan (64%).
* Usia Dominan: Anak-anak usia 1-10 tahun mencakup 35% dari total kasus.
* Karakteristik Varian: Berdasarkan 843 spesimen positif influenza secara nasional, sebanyak 172 sampel adalah tipe A(H3), di mana 62 di antaranya (36%) merupakan sub-clade K.

Imbauan Keselamatan
dr. Leli mengingatkan bahwa meski tren nasional cenderung menurun dalam dua bulan terakhir, kewaspadaan masyarakat jangan sampai kendor. Masyarakat diminta segera ke fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) jika gejala flu tidak membaik dalam tiga hari, terutama jika disertai sesak napas atau demam tinggi yang menetap.

“Vaksinasi influenza tahunan tetap menjadi tameng utama bagi kelompok rentan seperti lansia, ibu hamil, dan pemilik komorbid agar terhindar dari risiko rawat inap atau kematian,” pungkasnya. (YAN)

Share This Article
Leave a Comment