Daily Indo News – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menekankan pentingnya penguatan jati diri dan identitas bangsa sebagai fondasi pembangunan. Hal tersebut disampaikannya dalam acara silaturahmi dan buka puasa bersama Keluarga Besar HMI serta KAHMI se-Jawa Barat di Gedung Pakuan, Jumat malam (6/3/2026).
Pria yang akrab disapa KDM ini menyatakan bahwa Indonesia telah lama mengalami krisis identitas. Menurutnya, berbicara tentang Indonesia tidak bisa dilepaskan dari akar budaya yang membentuknya.
“Berbicara Indonesia itu harus bicara identitas. Tidak bisa kita bicara Indonesia tanpa identitas. Sudah lama kita kehilangan itu,” tegas Dedi di hadapan para tokoh HMI dan mitra kerja Komisi II DPR RI.
Budaya Sunda dan Nilai Universal Islam
KDM juga menyoroti adanya stigma di masyarakat yang menganggap upaya mengembalikan nilai-nilai kesundaan sebagai tindakan yang dekat dengan kemusyrikan. Ia membantah paradigma tersebut dan menegaskan bahwa kebudayaan lokal justru sejalan dengan nilai-nilai agama.
“Paradigma itu berlangsung lama hingga mulai menghilangkan identitas. Menghilangkan identitas, menghilangkan jati diri. Sehingga dalam pemahaman saya, ketika masuk dalam wilayah kebudayaan kesundangan, justru disitulah juga saya masuk ke wilayah universalitas ke Islaman,” ujarnya.
Dedi juga mengkritik penyeragaman desain pembangunan di berbagai daerah yang mengabaikan karakter geografis dan budaya lokal. Ia mendorong agar tata ruang di Jawa Barat lebih memperhatikan aspek lingkungan.
Ia mencontohkan, desain gedung pemerintahan di daerah berhawa dingin seperti Bandung seharusnya tidak disamakan dengan daerah panas seperti Cirebon.
“Kultur setiap daerah pasti berbeda. Desain pembangunan di kota Bandung yang agak dingin harus berbeda dengan di Cirebon. Di Cirebon harus berbeda dengan di Bogor dan lainnya,” katanya.
Refleksi Kepemimpinan Efisien
KDM menegaskan pemerintahan yang bernafaskan Islam artinya pemerintahan yang mengutamakan kebutuhan dan keselamatan warganya dibandingkan kepentingan pejabatnya.
Meski mengelola anggaran Jawa Barat sebesar Rp26 triliun, KDM mengeklaim telah berhasil menjalankan sejumlah program strategis,
“Saya memimpin Jawa Barat kondisi keuangannya hanya Rp26 triliun. Tapi membebaskan pendidikan SMA gratis. Bisa membangun jalan sampai pelosok. Bisa membangun rumah rakyat miskin. Bisa menyiapkan generasi ke depan untuk dia bisa kuliah di bidang-bidang teknologi. Melahirkan engineer baru. Kemudian pemerintahannya efisien,” ucapnya.
(YAS)


