Daily Indo News – Sejarah sering kali terasa seperti benda padat yang kaku dalam buku teks, namun melalui lembaran-lembaran foto hitam putih dari medio 1910–1920-an, ia menjelma menjadi ruang yang bernapas.
Dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-213 Kabupaten Garut (HJG ke-213), kita kembali diajak menatap wajah lama tanah Priangan melalui pameran “Garut Tempo Doeloe”. Foto-foto ini bukan sekadar dokumentasi teknis, melainkan jendela yang membukakan kembali tirai masa lalu, saat Garut mulai dikukuhkan oleh dunia sebagai “Swiss van Java”.
Menatap koleksi visual ini adalah sebuah perjalanan menembus waktu. Kita melihat bagaimana alam Garut yang eksotis—dengan siluet Gunung Guntur yang megah dan uap hangat dari pemandian Cipanas—menjadi magnet bagi hasrat pelesir kaum kolonial. Di sana, arsitektur bukan sekadar bangunan, melainkan pernyataan kelas dan kekuasaan. Hotel Papandayan dan Hotel Ngamplang yang tertangkap kamera berdiri sebagai simbol kemewahan Eropa yang dipaksakan di atas tanah tropis. Di beranda-beranda hotel itu, percakapan dalam bahasa Belanda mungkin mengalir sembari menyesap kopi terbaik dari perkebunan sekitar, sementara di kejauhan, pegunungan tetap membisu menyaksikan perubahan zaman.
Namun, estetika yang tersaji dalam bingkai-bingkai foto tersebut menyimpan dualitas yang mendalam. Di satu sisi, kita melihat keteraturan tata kota: jalan-jalan raya yang lebar, jembatan yang kokoh, serta kereta uap yang membelah keheningan lembah—semuanya menandakan hadirnya modernitas administratif Hindia Belanda. Namun di sisi lain, jika kita jeli melihat detail di sudut frame, terselip wajah-wajah pribumi yang menjadi penopang utama kehidupan masa itu. Mereka hadir sebagai kusir delman, pekerja perkebunan, atau warga desa yang menatap kamera dengan rasa ingin tahu. Di balik kemegahan arsitektur kolonial, ada kisah tentang keringat, kerja paksa, dan stratifikasi sosial yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas kita.
Foto-foto ini adalah “arsip yang membeku”, namun ia memiliki kekuatan untuk mencairkan ingatan kolektif kita. Ia menuntut kita untuk tidak hanya terjebak dalam romantisme visual akan masa lalu yang terlihat “indah dan tertib”. Sebaliknya, dokumentasi ini mengajak kita untuk membaca ulang bagaimana identitas Garut hari ini dibentuk oleh persilangan antara kemurnian alam, ambisi kolonial, dan daya tahan masyarakat lokal.
Pameran di Pendopo Garut ini akhirnya menjadi sebuah refleksi penting di usia kabupaten yang ke-213. Mengenang masa lalu bukan berarti ingin kembali ke sana, melainkan upaya untuk memahami akar agar kita tidak kehilangan arah di masa depan. Melalui foto-foto dari era 1910-an ini, kita diajak untuk menyadari bahwa setiap sudut jalan yang kita lalui hari ini adalah lapisan dari ribuan cerita lama. Garut yang sekarang adalah hasil dari perjalanan panjang, sebuah sintesis dari segala luka dan kejayaan masa lalu yang harus terus dirawat maknanya oleh generasi kini.
(YAS)



