Daily Indo News – Memperingati Hari Jadi ke-213 Kabupaten Garut (HJG ke-213), Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Garut menyulap kawasan Pendopo Garut menjadi lorong waktu. Melalui pameran foto bertajuk “Garut Tempo Doeloe: Jejak Priangan di Masa Kolonial”, masyarakat diajak mengintip kemegahan Garut pada medio 1910–1920-an.
Kepala Dispusip Garut, Totong, menjelaskan bahwa pameran ini bukan sekadar pajangan estetika foto hitam-putih, melainkan upaya menyajikan arsip visual saat Garut mencapai puncak kepopulerannya sebagai “Swiss van Java” di mata dunia.
Menghidupkan Ingatan Kolektif
Pameran ini menampilkan transformasi Garut dari wilayah pedesaan yang asri menuju modernitas kolonial. Pengunjung dapat melihat dokumentasi autentik mulai dari pemandian air panas Cipanas yang legendaris, hingga hotel-hotel mewah seperti Hotel Papandayan dan Hotel Ngamplang yang dulunya menjadi magnet bagi kaum elite Eropa.
“Maksud dan tujuan utama kami adalah mengajak masyarakat menatap kembali sejarah lokal secara visual. Kita ingin publik memahami bahwa masa lalu adalah bagian tak terpisahkan dari identitas daerah kita,” ujar Totong saat ditemui di lokasi pameran, Rabu (18/2/2026).
Sasaran Edukasi dan Pelestarian
Selain sebagai bagian dari seremoni HJG ke-213, kegiatan ini ditujukan khusus untuk menjangkau generasi muda. Totong menekankan pentingnya literasi sejarah visual agar anak muda Garut tidak asing dengan perjalanan panjang kabupatennya.
“Sasaran kami adalah pelajar, pecinta sejarah, hingga masyarakat umum. Kami ingin menginspirasi mereka untuk menghargai warisan budaya dan menjaga identitas Garut di tengah perubahan zaman,” tambahnya.
Akses Digital untuk Jangkauan Luas
Menyadari keterbatasan waktu pameran fisik selama rangkaian HJG, Dispusip Garut melakukan terobosan dengan menyediakan akses virtual. Bagi masyarakat yang tidak sempat hadir di Pendopo, seluruh koleksi arsip foto masa kolonial ini dapat diakses secara digital, di Pameran Virtual: https://bit.ly/4t2KvJd
Melalui pameran ini, Dispusip berharap arsip foto dapat menjadi wadah refleksi. Di balik keindahan lanskap Guntur dan kemegahan arsitektur kolonial, tersimpan pesan tentang daya tahan dan adaptasi masyarakat lokal yang membentuk wajah Garut hari ini.
(YAS)


