Daily Indo News – Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah membawa perubahan besar dalam cara manusia bekerja, belajar, dan mengakses informasi. Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan, AI juga menghadirkan tantangan serius, terutama bagi negara dengan tingkat literasi yang masih rendah seperti Indonesia.
Data literasi baca Indonesia 2025 menunjukkan gambaran kompleks, ada peningkatan indeks pembangunan literasi (IPLM) dan tingkat gemar membaca (TGM) yang dikategorikan “sedang” secara nasional, didorong oleh Gen Z, dan pemerintah. Sedangkan data PISA 2022 skor litaerasi membaca Indonesia masih di bawah nilai rata-rata global, dan masih ada kesenjangan antara data statistik dan tantangan akses serta kualitas literasi yang lebih mendalam (literasi digital, informasi).
Hal inilah yang menjadi sorotan dalam perbincangan dalam sebuah podcast Helmy Yahya dan Prof. Bagus Mulyadi, akademisi Indonesia yang menjadi profesor di Inggris.
Revolusi industri dan kemunculan AI selalu menciptakan kelas sosial baru, antara mereka yang mampu mengkapitalisasi teknologi dan yang menjadi korban. AI berpotensi menggantikan pekerjaan manusia, tetapi juga bisa menjadi alat yang sangat kuat jika dimanfaatkan dengan kemampuan berpikir analitis dan kritis. AI akan memperlebar kesenjangan sosial, menciptakan kelas pemilik teknologi dan kelas yang bergantung padanya. Ini menuntut strategi kebijakan yang inklusif agar masyarakat luas dapat mengakses dan memanfaatkan AI, bukan hanya segelintir elit.
Kemampuan berbahasa yang jujur dan tepat adalah fondasi berpikir analitik. Bahasa yang ambigu dan manipulatif membuat orang mudah berbohong dan memperkeruh situasi. Oleh karena itu, pendidikan bahasa harus diperlakukan setara dengan pendidikan matematika dan sains.
lanjutnya, identitas intelektual dan Budaya Lokal Harus Diangkat Kembali, untuk memotivasi masyarakat agar giat membaca dan belajar, perlu ditanamkan kesadaran akan warisan intelektual dan kearifan lokal yang kaya, yang selama ini kurang mendapat perhatian. Di negara maju, pendidikan menekankan trivium (grammar, logic, rhetoric) agar orang bisa berpikir kritis dan analitis melalui bahasa, sesuatu yang kurang di Indonesia.
Revolusi industri dan AI akan terus menghasilkan kelas sosial baru, ada yang mampu mengkapitalisasi teknologi dan ada yang menjadi korban. Oleh karena itu, kesiapan berpikir kritis dan analitis sangat menentukan posisi seseorang dalam perubahan sosial dan ekonomi. Peran generasi muda harus menjadi pahlawan yang mampu memanfaatkan AI dan teknologi.
Untuk itu, dengan mental yang tepat dan kemampuan berpikir kritis, manusia dapat beradaptasi dan memanfaatkan AI untuk kemajuan bersama. Penguasaan AI dan kemampuan berpikir kritis harus dijadikan modal utama agar bisa beradaptasi dan menguasai gelombang perubahan teknologi yang tak terelakan. (Ari A.N)



